Saturday, February 11, 2012

Sinopsis Novel Remaja

Sinopsis


Layar Terkembang






Di Susun Oleh :

Allia Okti Sativa







Judul                    : Layar Terkembang
Tokoh Utama        : Maria, Yusuf, dan Tuti
Pengarang           : Sultan Takdir Alisjahbana
Jumlah Halaman  : 200 halaman



Novel ini menceritakan tentang: Seorang remaja muda kakak beradik yang bernama Tuti dan Maria. Saat mereka bertemu dengan seorang pemuda bernama Yusuf di sebuah kios aquarium, pada pertemuan pertama itulah Maria dan Yusuf mulai saling tertarik. Akhirnya Maria dan Yusuf menjalin percintaan yang manis, sementara Tuti bergelut dengan dirinya sendiri; apakah akan menikah dengan orang yang tidak dicintainya hanya karena alasan usianya yang semakin bertambah, atau tetap memegang prinsip: lebih baik tidak menikah daripada mempunyai suami yang tidak sepaham dengan dirinya.
Hubungan Maria dan Yusuf semakin mendalam, tapi ketika tiba-tiba Maria diketahui menderita penyakit serius. Bagaimanakah perasaan Yusuf sebagai tunangannya mengetahui keadaan Maria tersebut? Bagaimana Tuti menghadapi peristiwa tak terduga dalam hidupnya? Dan bagaimana hubungan Ketiganya?



T
uti dan Maria seorang remaja muda kakak beradik ini mempunyai sifat dan pekerti yang sangat jauh berbeda. Tuti pekertinya tidak mudah kagum, keinsafannya akan harga dirinya sangat besar. Lain halnya dengan Maria, yang sifatnya mudah kagum terhadap sesuatu dan suka sekali memuji-muji. Tuti dan Maria adalah anak dari Raden Wiriaatmaja. Tuti yang sudah berumur dua puluh lima tahun itu menjadi guru di sekolah H.I.S. Arjuna di Petojo. Sementara Maria yang masih berumur dua puluh tahun itu bersekolah di H.B.S. Carpentier Alting Stichting.

Suatu hari, Tuti dan Maria pergi ke kios Aquarium, saat sedang melihat-lihat jenis ikan, seorang pemuda memasuki kios aquarium sebagai pengunjung yang kedua sesudah Tuti dan Maria. Pemuda itu memandang kepada Maria, mata keduanya bersua dan saling membuang muka. Sesudah Tuti dan Maria melihat-lihat ikan, mereka keluar dari kios itu dan tak lama kemudian pemuda tadi menghampiri Tuti dan Maria yang sedang mengambil sepedanya di parkiran, sebab sepeda pemuda itu juga terletak dekat sepeda mereka. Tanpa disengaja Maria mendengar pemuda tadi sedang bercakap-cakap dengan kawannya, bahwa nama pemuda itu bernama Yusuf.

Mereka bertiga terus berjalan, sambil bercerita-cerita dan Yusuf terus menemani kedua gadis itu. Sampai akhirnya Tuti dan Maria tiba di rumahnya. Maria mengajak Yusuf untuk singgah sebentar, tapi Yusuf menolak karena ia masih segan terhadap orang yang belum terlalu dikenalnya.

Yusuf ialah putra Demang Munaf yang tinggal di Martapura, Sumatera Selatan. Sudah hampir lima tahun ia belajar di Sekolah Tabib Tinggi. Setelah mengantar Tuti dan Maria tadi, pikirannya hanya berbolak-balik kepada gadis itu. Tapi yang paling menarik hatinya ialah Maria. Keesokan paginya, Yusuf pergi berangkat sekolah, dan di jalan ia bertemu kembali dengan Maria. Hati Yusuf berdebar-debar dan agak keragu-raguan. Maria terlihat mempesona, ia lebih cantik dibanding penampilannya yang kemarin. Yusuf dan Maria berangkat bersama-sama, sambil bercakap-cakap di jalan. Sesampainya Maria di sekolah, Yusuf kembali melihat gadis itu dan timbulah lagi dari hatinya pengakuan akan kecantikkan gadis itu.

Pada suatu sore hari, Tuti sedang membaca buku di dekat pekarangan rumahnya, sementara Maria sedang asyik menyirami bunga-bunganya, sambil menyanyi dan memutar musik. Ia suka sekali terhadap bunga-bungaan. Tiba-tiba dari arah Gang Hauber datanglah Yusuf, Tuti dan Maria menyambut dengan baik kehadiran Yusuf tersebut. Mereka bertiga bercakap-cakap di halaman rumah.

Sudah sepuluh hari Yusuf ada di rumah orang tuanya di Martapura. Ia melepaskan lelahnya sesudah menempuh ujiannya. Pada suatu petang, Yusuf mendapatkan sebuah surat dari Maria yang sedang di Bandung, betapa senangnya hati Yusuf saat membaca surat dari Maria. Di sana Yusuf berlibur ke rumah kawan lamanya. Dan setelah pulang kembali ke rumah orang tuanya di Martapura, Yusuf mendapat surat lagi dari Maria. Ia menceritakan tentang perjalannya bersama Rukamah, sepupunya. Setelah membaca surat dari Maria, ia termenung. Ia merasakan seperti ada yang kurang dari hatinya, tapi sesudah ia membaca surat dari Maria tersebut ia merasa sesuatu yang selama ini dianggap kurang dari hatinya menjadi hilang. Dan akhirnya Yusuf pulang kembali ke Jakarta, langsung singgah ke rumah Tuti dan Maria. Senang sekali rasanya perasaan Yusuf dan Maria setelah saling bertemu kembali.

Suatu hari, Yusuf dan Maria sedang berjalan-jalan dan duduk di dekat air terjun yang indah di Dago. Tiba-tiba Wajah Maria terlihat pucat dan badannya melemah. Yusuf panik dan segera mengajak Maria ke tempat untuk berteduh. Setelah Maria kuat kembali untuk berjalan, Yusuf mengungkapkan isi hatinya kepada Maria, bahwa ia mencintainya dan ingin menjadi kekasihnya. Mendengar ucapan itu, Maria terkejut dan menerima Yusuf. Mereka berjalan-jalan kembali sambil berpegangan mesra.

Maria menceritakannya kepada Tuti bahwa ia telah berjanji pada Yusuf akan menjadi istrinya di kemudian hari. Tuti senang mendengar perkataan adiknya itu. Suatu malam, ketika Tuti sedang mengetik untuk mempersiapkan kehadirannya pada rapat kongres, ia tidak dapat bekerja dengan baik. Pikirannya yg tidak menentu perasaannya saat melihat keluar jendela, terlihat Maria dan Yusuf sedang bercakap-cakap. Ia tetap berpikir, tidak mungkin dirinya iri terhadap adiknya itu.
    
Pada malam Minggu kemudian, Tuti sedang membaca buku di kamarnya, lalu datanglah Maria yang baru pulang dari main tennis. Maria duduk menghampiri kakaknya yang sedang membaca buku sambil mengeluhkan dirinya yang akhir-akhir ini sering cepat letih badannya. Tuti menganjurkan kepada Maria bahwa ia harus periksa ke dokter. Tapi Maria menolaknya, karena ia menganggap hanya perasaan letih biasa saja. Maria melamun memikirkan kekasihnya itu yang belum kunjung datang juga. Tak lama datanglah Yusuf, yang sudah dinantikan kehadirannya itu oleh Maria. Maria duduk berdua bersama Yusuf di luar teras sambil bercakap-cakap. Tuti hanya duduk didalam sambil melamun sendiri yang tidak jelas apa yang sedang dipikirkannya. Beberapa hari kemudian, Maria terbaring di tempat tidurnya. Demam malaria yang sudah sepuluh hari itu membuat tubuhnya mengurus dan mukanya memucat. Tuti dan Yusuf menemani Maria yang sedang terbaring lemas itu di dalam kamarnya.
    
Tiba-tiba Tuti terkejut mendengar Maria batuk. Dan Yusuf panik, ia segera mengambil tempolong yang ditaruhnya di bawah dekat tempat tidur Maria. Tuti dan Yusuf melihat Maria batuk yang disertai muntah darah. Tuti panik, ia segera memanggil ayahnya dan memanggil dokter untuk datang dan memeriksa keadaan Maria. Memang sudah lama, akhir-akhir ini Maria sering batuk-batuk kecil yang dianggapnya tak mengapa. Setelah menunggu dokter yang memeriksa Maria tersebut, akhirnya setelah diketahui, bahwa Maria menderita penyakit TBC yang memecah keluar disertai penyakit malarianya yang sudah sepuluh hari itu. Dokter menyarankan supaya Maria lekas di bawa ke rumah sakit supaya diobati lebih lanjut.
        
Maria sudah dua hari tinggal di rumah sakit umum pusat. Dokter yang merawatnya di rumah sakit itu menyarankan pada Maria supaya ia dibawa ke rumah sakit Pacet, yaitu rumah sakit TBC bagi perempuan yang terletak di daerah pegunungan yang sejuk hawanya. Akhirnya Maria dibawa ke rumah sakit di Pacet. Setelah beberapa hari Maria dirawat di rumah sakit di Pacet, ia sadar bahwa diantara banyaknya orang yang sakit itu, hanya ialah yang paling berat penyakitnya. Saat orang-orang lain boleh keluar menikmati pemandangan, sambil mencari hawa sejuk, Maria tidak boleh keluar karena panasnya sering tinggi, dan sering batuk yang mengeluarkan darah lagi.
        
Sudah sebulan lebih Maria tinggal di rumah sakit Pacet. Ia melihat betapa indahnya pemandangan diluar sana, alangkah indahnya hidup di dunia ini. Tambah mendalam rasa kemalangan diri Maria yang tak bisa bermain-main ke luar. Ia pun menulis surat kepada Yusuf yang sudah lama tak berjumpa dengannya. Ia menceritakan betapa sedih hatinya tinggal di rumah sakit ini, yang tak bebas. Ia juga sering memimpikan mendiang bundanya. Tanpa disadari Maria meneteskan air mata dipipinya dan menitik di atas kertas surat.
        
Beberapa minggu kemudian, Tuti dan Yusuf sedang mengunjungi Maria di rumah sakit Pacet. Hari itu adalah hari terakhir mereka mengunjungi Maria, besok Tuti dan Yusuf akan pulang ke Jakarta karena waktu liburnya telah habis. Sangat berat hati mereka berdua meninggalkan Maria. Apalagi setelah dokter memberitahu pada Yusuf bahwa penyakitnya Maria bertambah parah keadaannya. Sekarang amatlah pilu hati Maria karena akan ditinggalkan oleh Tuti dan Yusuf. Maria pasrah terhadap keadaannya itu dan tiba-tiba  saja berkata kalau ia tak akan lama lagi hidup di dunia ini. Dan akhirnya pergilah Tuti dan Yusuf kembali ke Jakarta.
        
Waktu terus berjalan, di suatu pagi, di pekuburan dekat Pacet yang tidak jauh dari rumah sakit Maria itu, sangat sunyi. Dari arah Cianjur datanglah seorang laki-laki dan perempuan yang tak lain adalah Tuti dan Yusuf. Mereka menghampiri sebuah makam yang paling indah dari makam yang lainnya disitu tertulis “Maria berpulang... 1 Januari ’93… usia 22 tahun” akhirnya Yusuf akan menikahi Tuti karena lama-lama terjalin antara mereka tali pengertian dan penghargaan batin yang halus, yaitu kedukaan bersama yang dibangkitkan oleh kasih sayang pada orang yang sama-sama dicintai mereka.

Selesai

No comments:

Post a Comment